Senin, 11 Mei 2020

Dr. Li Wenliang

Dr. Li Wenliang

Li Wenliang adalah dokter mata Tiongkok yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Pusat Wuhan. Li memperingatkan rekan-rekannya pada Desember 2019 tentang kemungkinan wabah penyakit yang menyerupai sindrom pernapasan akut (SARS), yang kemudian dikenal sebagai COVID-19.

Dia menjadi pelapor ketika peringatannya kemudian dibagikan secara publik. Pada 3 Januari 2020, polisi Wuhan memanggil dan menegurnya karena “membuat komentar palsu di Internet”. Li kembali bekerja, kemudian tertular virus dari pasien yang terinfeksi (yang semula dirawat karena glaukoma) dan meninggal akibat penyakit tersebut pada 7 Februari 2020, pada usia 33 tahun. Penyelidikan resmi Tiongkok berikutnya membebaskannya dan Partai Komunis Tiongkok secara resmi menawarkan “permintaan maaf serius” kepada keluarganya dan mencabut tegurannya.


Pada 8 Januari, Li mengontrak virus korona ketika dia melakukan kontak dengan pasien yang terinfeksi di rumah sakitnya. Pasien menderita glaukoma sudut tertutup akut dan mengalami demam pada hari berikutnya. Li kemudian mulai curiga bahwa pasien tersebut mungkin memiliki infeksi coronavirus. Li menderita demam dan batuk pada 10 Januari, yang segera menjadi parah. Dokter Yu Chengbo, seorang ahli medis Zhejiang yang dikirim ke Wuhan, mengatakan kepada media bahwa meskipun sebagian besar pasien muda tidak cenderung mengalami kondisi parah, pasien glaukoma yang Li lihat pada 8 Januari adalah seorang penjaga toko di Pasar Makanan Laut Huanan dengan viral load tinggi, yang bisa memperburuk infeksi Li.

Pada 12 Januari, Li dirawat di rumah sakit intensif di Distrik Rumah Sakit Houhu, Rumah Sakit Pusat Wuhan, di mana dia dikarantina, dirawat, dan dites virusnya beberapa kali hingga dia dinyatakan positif terinfeksi pada 30 Januari. Dia didiagnosis dengan infeksi virus pada 1 Februari.

Ketika Li mulai menunjukkan gejala penyakit koronavirus, dia memesan kamar hotel untuk menghindari kemungkinan menulari keluarganya, sebelum dirawat di rumah sakit pada 12 Januari. Meskipun tindakan pencegahan ini, orang tuanya terinfeksi dengan SARS-CoV-2, tetapi kemudian sembuh.

Li dan istrinya, Fu Xuejie, memiliki satu putra. Istrinya sedang mengandung anak kedua mereka pada saat kematiannya.

Source;
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Li_Wenliang


 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar 
Download GTA San Andreas Mobile

Sabtu, 09 Mei 2020

Karena Abai Peringatan Dini, Flu Spanyol Mewabah di Hindia Belanda

Karena Abai Peringatan Dini, Flu Spanyol Mewabah di Hindia Belanda
tirto.id - Nasib malang, walaupun tak tentu, kerap menjadi kawan baik seniman. Penyair Amir Hamzah tewas dalam huru-hara sosial di Sumatra selepas kemerdekaan. Vincent van Gogh bunuh diri dalam depresinya yang dalam. Sementara pelukis Rembrandt yang pernah bergelimang harta mati dalam kepapaan dan kesendirian. Pelukis masyhur Austria di awal abad ke-20, Egon Schiele, juga bukan pengecualian.

Ketika memasuki masa produktif dan namanya sedang naik, Perang Dunia I meletus. Schiele pun harus mengikuti wajib militer. Untunglah, seorang perwira Austria yang paham seni menyelamatkannya. Saat prajurit lain musti bertempur di garis depan, Schiele mendapat kompensasi kerja administrasi dan menjaga tawanan. Selama perang berkecamuk, ia tetap bisa berkarya meski tak seproduktif sebelumnya.

Saat perang mendekati titik akhir pada 1918, Schiele ketiban pulung. Ia diperbolehkan kembali ke Wina dan menggelar beberapa pameran. Meski inflasi sedang menggila, hampir semua lukisannya terjual saat itu. Dengan keuntungan dari penjualan lukisan, ia lalu mengajak Edith Harms, sang istri, pindah ke rumah yang lebih bagus.

Pada pertengahan tahun itu Schiele mulai mengerjakan sebuah lukisan yang kelak dikenang sebagai salah satu mahakaryanya. The Family, nama lukisan itu, adalah sebuah potret metaforik yang diakui Schiele menggambarkan eksistensi kreatifnya. Lukisan itu menampilkan sosok Schiele sendiri (lelaki yang menjadi simbol semangat hidup) membungkuk di belakang seorang perempuan (simbol wahana) dan bayi (simbol karya kreatif).

Siapa sangka saat lukisan itu hampir rampung, Edith juga sedang hamil. Maka itu banyak orang mengira The Family adalah gambaran keluarga impian Schiele. Tapi, siapa sangka juga, itulah pulung terakhir bagi Schiele.

Pada Oktober 1918, ketika Eropa mulai memasuki musim gugur, wabah influenza menerjang. Schiele dan Edith ikut-ikutan terjangkit. Hawa dingin dan keterbatasan pasokan makanan gara-gara perang memperparah flu yang mereka derita. Schiele dan Edith tak mampu bertahan. Edith meninggal pada 28 Oktober dan Schiele menyusul mangkat tiga hari kemudian.

“Pada jeda waktu tersebut, walau dirundung duka dan menderita sakit, Schiele sempat mencoba merampungkan lukisannya—potret keluarganya sendiri yang tak akan pernah terwujud. [...] Kematian itu jadi salah satu alasan lukisan The Family karyanya kerap digambarkan sebagai saksi bisu keganasan wabah flu 1918,” tulis Laura Spinney, penulis Pale Rider: The Spanish Flu of 1918 and How it Changed the World, di lamanBBC.


Bukan Flu Biasa
Wabah influenza yang merebak pada 1918 itu bukanlah penyakit flu biasa. Orang-orang saat itu mengenalnya sebagai Flu Spanyol. Ia mendapat nama dari pemberitaan gencar media massa Spanyol selama pandemi terjadi. Penyebab utama flu ini adalah virus influenza tipe A subtipe H1N1.

Varian virus ini jauh lebih berbahaya dibanding virus influenza musiman yang sudah diketahui saat itu. Virus ini bahkan lebih mengancam karena mudah menular melalui udara sehingga bisa merebak ke wilayah yang luas dalam waktu singkat.

Hingga kini titik asal kemunculan virus Flu Spanyol masih belum bisa dipastikan. Kemungkinan pertama, virus ini mulai mewabah di kompleks militer Fort Riley, Amerika Serikat pada Maret 1918. Priyanto Wibowo dan kawan-kawan dalam Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda (2009) menyebut saat itu terdapat laporan sekira 500 orang mengalami flu disertai gejala pneumonia. Pada akhir bulan jumlahnya meningkat hingga 700 orang dan 40 di antaranya meninggal.

Virus ini lalu menyebar ke Eropa ketika Amerika Serikat mengirim tentara ke medan Perang Dunia I.

“Penyebaran penyakit influenza ke Eropa ini dianggap sebagai gelombang pertama dari pandemi tersebut. Namun laporan lain yang mengatakan bahwa sebenarnya influenza H1N1-1918 ditemukan pertama kali di Eropa setelah dilaporkannya kasus influenza pada salah satu resimen tentara Amerika Serikat di Perancis dan Inggris,” tulis Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 34).

Dari sumber-sumber di zaman itu, ada pula yang menyatakan bahwa wabah Flu Spanyol bukan berasal dari Amerika. Sejarawan Ravando Lie, yang pernah meneliti tentang wabah ini untuk penulisan "mini-thesis" di Leiden University, menemukan laporan berbeda pada sebuah surat kabar dalam negeri.

"Memang yang selama ini menjadi 'accepted history' adalah wabah ini bermula dari Amerika. Tapi saya membaca laporan di harian Pewarta Soerabaia terbitan 1918, ketika saya meneliti tentang Flu Spanyol di Hindia Belanda, bahwa wabah ini berasal dari Swedia atau Rusia, kemudian menyerang Cina, Jepang, sampai Asia Tenggara," tutur Ravando kepada Tirto, Senin (16/3/2020).

Situasi perang memang membuat sumber penyebaran virus ini tidak pernah jelas. Masing-masing negara yang diduga menjadi permulaan penyebaran cenderung menutup-nutupinya. 

"Akar dari virus ini sesungguhnya tak pernah jelas. Ini karena suasana Perang Dunia I. Tiap negara terdampak berupaya menyembunyikan fakta sesungguhnya agar tidak terlihat lemah," lanjut sejarawan yang sedang menempuh studi doktoral di Melbourne University itu.

Meski episentrumnya masih sumir, tetap jelas bahwa H1N1 adalah virus ganas. Ketika pandemi terjadi, populasi dunia diperkirakan 1,7 miliar orang dan 60 persennya terjangkit virus ini. Perang Dunia I juga berkontribusi besar bagi penyebaran virus ini dengan amat cepat karena mobilisasi tentara dan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya.

Yang mengherankan, korban pandemi ini paling banyak berasal dari rentang umur 20-40 tahun—usia saat imunitas semestinya dalam kondisi prima. Perkiraan jumlah pasien yang tewas akibat pandemi influenza ini pun bervariasi. Dalam kurun Maret 1918-September 1919, ada yang menyebut 21 juta hingga kisaran 50-100 juta jiwa tewas akibat Flu Spanyol di seluruh dunia.

"Di era modern, jelas enggak ada penyakit yang fatality rate-nya setinggi Flu Spanyol. Jumlah korbannya bahkan melebihi jumlah korban Perang Dunia I. Menurut berbagai sumber yang saya baca, hingga sekarang para epidemiologis menyimpulkan Flu Spanyol adalah penyakit menular paling mematikan, jauh lebih berbahaya dari cacar, pes, dan kolera,” ujar Ravando.


Menyerbu Hindia Belanda
Wabah Flu Spanyol merambah Hindia Belanda sejak gelombang pertama pandemi. Virus diduga dibawa oleh imigran Cina yang berlayar ke Hindia Belanda melalui Hongkong. Pada April 1918 konsul Belanda di Singapura bersurat kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda agar tidak menerima kapal-kapal dari Hongkong berlabuh di Batavia. Sebelumnya, konsul Belanda di Singapura itu telah menerima peringatan dari otoritas Inggris di Hongkong.

Hindia Belanda pun sebenarnya punya Peraturan Karantina yang tercantum di Staatblad van Nederlandsch Indie no. 277 tahun 1911. Aturan itu mengatur tentang prosedur karantina kapal dan pelabuhan—juga kota—untuk menekan persebaran wabah ketika terjadi epidemi.

Sayangnya, peringatan itu tidak mendapat perhatian yang semestinya dari pemerintah kolonial. Maka itu protokol karantina juga tidak berjalan efektif. Kapal-kapal dari luar negeri tetap bebas berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Hindia Belanda. Begitu pun penumpangnya diperbolehkan masuk kota sebagaimana biasa. Akibatnya, Hindia Belanda mesti berhadapan dengan epidemi yang mematikan tiga bulan kemudian.

“Pada bulan Juli 1918, beberapa pasien influenza mulai dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Hindia Belanda. Jumlah ini semakin meningkat pada bulan Agustus dan September, meskipun rasio perbandingan dengan jumlah korban wabah-wabah lokal yang terjadi sebelumnya masih dianggap rendah,” tulis Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 95).

Karena Abai Peringatan Dini, Flu Spanyol Mewabah di Hindia Belanda

Seperti bola salju, korban wabah Flu Spanyol terus bertambah seiring bulan berganti. Wabah menyebar mengikuti jalur transportasi utama. Kota-kota pelabuhan yang menjadi tempat transit penumpang luar negeri adalah yang paling dulu terkontaminasi. Virus lalu menyebar ke daerah pedalaman di sekitar jalur kereta api seiring dengan pergerakan manusianya.

Siddharth Chandra dalam “Mortality from the Influenza Pandemic of 1918-19 in Indonesia” yang terbit di jurnal Population Studies (2013) menyebut epidemi Flu Spanyol pecah dalam dua gelombang utama. Gelombang pertama terjadi pada Juni-Juli 1918 di kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa dan pantai timur Sumatra. Begitu pula yang terjadi di pantai barat Kalimantan. 

Gelombang kedua, yang disebut-sebut lebih cepat dan luas penyebarannya, mulai pecah pada Oktober hingga Desember. Epidemi skala kecil juga terjadi di daerah timur Hindia Belanda hingga Februari 1919.

Karena di masa itu belum ada sensus, jumlah orang yang terjangkit atau korban tewas jadi sulit dipastikan. Chandra menyebut bahwa estimasi jumlah korban di tiap daerah sangat bervariasi, berkisar antara sepuluh hingga belasan persen dari total populasi lokal. Lima daerah dengan tingkat kematian tertinggi—lebih dari 15 persen dari total populasi—akibat pandemi Flu Spanyol tercatat di Madura, Banten, Kediri, Surabaya, dan Cirebon.

Yang terang, banyaknya jumlah orang yang terjangkit membuat para dokter rumah sakit yang ada saat itu kebanjiran pasien. Di Makassar, misalnya, seorang dokter mesti berurusan dengan 800 pasien influenza. Rumah sakit bahkan sampai kehabisan kamar dan terpaksa menolak pasien tambahan.

Meski kemudian wabah mereda pada pertengahan 1919, pemerintah kolonial jelas gagap dalam membaca situasi. Priyanto dan kawan-kawan menyebut bahwa laporan-laporan dari daerah yang masuk ke Algemeene Secretarie sering kali baru mendapat tanggapan setelah lewat beberapa bulan. Gara-gara itu langkah taktis untuk menekan penyebaran virus H1N1 jadi terhambat.

Kekacauan koordinasi itu diperparah dengan minimnya pengetahuan tenaga medis zaman itu terhadap jenis penyakit dan virus yang mereka hadapi. Tak heran jika otoritas kesehatan di tiap daerah akhirnya mengambil inisiatif sendiri-sendiri meski salah kaprah.

“Para dokter kolonial menganggap penangan penyakit flu sama dengan malaria, tanpa membuktikan lebih dahulu lewat proses penelitian laboratorium. Candu juga diusulkan sebagai obat sementara untuk mengurangi rasa sakit akibat lumpunya ketahanan tubuh setelah terserang virus influenza,” catat Priyanto dan kawan-kawan (hlm. 202-203).

Kegagapan pemerintah kolonial menghadapi serbuan virus Flu Spanyol juga ditemukan Ravando dalam risetnya. Ia bahkan mengatakan tidak ada upaya protokoler untuk mencegah wabah itu hingga satu tahun setelah menjangkiti Hindia Belanda.

"Pemerintah kolonial sangat lambat menangani Flu Spanyol. Padahal di negara lain jelas sudah menelan banyak korban. Tapi enggak ada upaya pencegahan atau protokoler yang jelas dalam mengantisipasi pandemi tersebut. Di Volksraad (parlemen semu Hindia Belanda), cuma Abdul Rivai yang mengkritik tindakan lambat pemerintah," pungkas Ravando.

Influenza Ordonantie—protokol resmi untuk menghadapi epidemi influenza di masa depan—akhirnya disahkan pada Oktober 1920 setelah melalui perdebatan panjang di pemerintahan dan parlemen.

https://tirto.id/karena-abai-peringa...a-belanda-eFve



 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar
Download GTA San Andreas Mobile

Kamis, 07 Mei 2020

Letusan Gunung Tambora


Gunung Tambora Meletus

Gunung Tambora

Gunung berapi menjulang di atas Laut Jawa dari pantai utara pulau Sumbawa, yang terletak di ujung timur bekas Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Sesekali Gunung Tambora meletus. Ledakan tahun 1815-nya mungkin yang paling merusak yang pernah dicatat.

Tambora berdiri lebih dari 14.000 kaki pada tahun 1815, tetapi ketika meniup tumpukannya, ia terlempar lebih dari 4.000 kaki di atasnya, meninggalkan kawah lebih dari empat mil dan kedalaman 2.000 kaki. Pada tanggal 5 April terjadi letusan sederhana, seolah-olah gunung berapi sedang berlatih, diikuti oleh suara gemuruh yang menggelegar. Ash mulai jatuh dan pada 10 April ada lebih banyak suara gemuruh yang terdengar seperti meriam.

Malam itu letusan bergerak dengan kekuatan penuh dengan ledakan yang terdengar lebih dari 1.200 mil jauhnya di Sumatra. Tanah berguncang ketika batu-batu besar dilemparkan seperti kerikil dan menyebabkan kekacauan di semua arah. Kolom api melonjak dari gunung dan menyatu bersama untuk membawa segumpal gas, debu, dan asap bermil-mil ke langit. Sungai abu pijar mengalir menuruni lereng lebih dari 100 mil per jam, menghancurkan semua jalan mereka sebelum mereka mendesis dan mendidih ke laut. Kapal-kapal di pelabuhan terperangkap dalam rakit batu apung, sementara tsunami didorong melintasi Laut Jawa. Abu vulkanik jatuh sejauh Kalimantan.

Abu dan puing-puing turun hujan selama berminggu-minggu dan rumah-rumah bermil-mil runtuh. Sumber air tawar terkontaminasi dan panen gagal, sementara gas belerang menyebabkan infeksi paru-paru. Diperkirakan 10.000 orang telah tewas seketika, tetapi ribuan lainnya meninggal karena kelaparan dan penyakit dan jumlah korban jiwa di Sumbawa dan pulau-pulau tetangga diperkirakan mencapai 60.000 hingga 90.000.

Stamford Raffles, waktu itu gubernur Jawa, yang telah diambil alih oleh Inggris selama Perang Napoleon, mengirim seorang perwira ke Sumbawa untuk melaporkan apa yang telah terjadi. Dia menemukan masih ada mayat tergeletak di sekitar, desa-desa hampir seluruhnya kosong dan sebagian besar rumah telah jatuh. Beberapa orang yang selamat berusaha mati-matian untuk mencari makanan. Epidemi diare hebat telah pecah, diduga disebabkan oleh abu vulkanik yang mencemari air minum, dan telah menyebabkan banyak kematian.



 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar
Download GTA San Andreas Mobile

Rabu, 06 Mei 2020

Solidaritas Para Tentara India

Menurut Nasution, adanya rasa simpati pasukan Inggris asal anak benua India terhadap perjuangan orang-orang Indonesia tentunya bukan tanpa dasar. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar bangsa India, saat itu menyimpan rasa kurang suka terhadap Belanda, yang menjadi musuh orang-orang Indonesia. Hal itu terkait dengan kejadian di Afrika Selatan, di mana perlakuan rasis keturunan Belanda berlangsung secara kencang terhadap orang-orang keturunan India di sana.

Namun para peneliti sejarah BIA di Indonesia seperti Firdaus Sjam dan Zahir Khan menyebut justru karena soal kesamaan agama-lah yang menjadi pemicu utama munculnya rasa simpati tersebut.

“Faktor ini yang melahirkan sikap mereka untuk bahu membahu dengan para pejuang republik berperang melawan penjajah sebagai satu fisabilillah…” tulis Sjam dan Khan dalam Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Hal itu terbukti pada saat satu seksi BIA pimpinan Letnan Abu Nawaz menolak keras perintah atasannya untuk menghancurkan Masjid Jami yang terletak di Jalan Serdang, Medan. Alih-alih melaksanakan perintah atasannya itu, seksi BIA yang keseluruhan prajuritnya beragama Islam itu malah membelot ke kubu musuh: para pejuang Indonesia.

“Penghancuran Masjid itu kemudian dilakukan oleh pasukan Inggris yang lain…”ujar Muhammad TWH, wartawan senior sekaligus pemerhati sejarah di Medan.



 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar
Download GTA San Andreas Mobile

Senin, 04 Mei 2020

Ratu Liliuokalani dan Akhir dari Kerajaan Hawaii

Ratu Liliuokalani adalah penguasa terakhir dinasti Kalākaua yang telah memerintah kerajaan Hawaii bersatu sejak 1810. Kerajaan Hawaii sendiri sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1795, namun saat itu hanya memerintah pulau Oʻahu, Maui, Molokaʻi, dan Lānaʻi saja. hingga pada tahun 1810, seluruh Kepulauan Hawaii bersatu ketika pulau Kauaʻi dan Niʻihau bergabung dengan Kerajaan Hawaii secara sukarela. 

Kerajaan tersebut diperintah oleh 2 keluarga dinasti, dinasti Kamehameha dan dinasti Kalākaua.

Sebagai ratu yang terakhir memerintah Kerajaan Hawaii, nama Liliuokalani adalah nama yang identik dengan keluarga kerajaan Hawaii. Ia lahir pada 2 September 1838 di Honolulu, pulau Oahu dengan nama Lydia Liliʻu Loloku Walania Wewehi Kamakaʻeha-a-Kapaʻakea
Lydia Kamakaʻeha Pākī.

Nama ayahnya adalah Caesar Kaluaiku Kamakaʻehukai Kahana Keola Kapaʻakea, sedangkan ibunya Analea Keohokālole. Ia diadopsi saat lahir oleh Abner Pākī dan Laura Kōnia dan dibesarkan bersama putri mereka, Bernice Pauahi Bishop, dibaptis sebagai seorang Kristen dan dididik di Royal School.

Ibunya bekerja sebagai penasihat Raja Kamehameha III. Lydia saat muda dididik oleh para misionaris dan berkeliling dunia Barat, hal itu seperti budaya bagi anggota bangsawan muda Hawaii saat itu. 

Dia menghabiskan masa mudanya di istana Kamahameha IV dan membuat lebih dari 160 lagu selama hidupnya. banyak diantaranya adalah lagu sedih, salah satunya "Aloha Oe" (Perpisahan Denganmu) yang merupakan lagu klasik yang identik dengan Kepulauan Hawaii.



 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar
Download GTA San Andreas Mobile

Minggu, 03 Mei 2020

Hobi Josef Stalin Sang Diktator Soviet

Josef Stalin, salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Uni Soviet, dipuja dan dikutuk banyak orang. Dia mengalahkan Nazi, tetapi juga membantai jutaan rakyatnya sendiri.

Siapa pun bebas memilih bagaimana Stalin patut dikenang, tetapi tak ada yang menyangkal bahwa perbuatannya berdampak besar, bahkan setelah ia mangkat. Lantas, apa yang kita ketahui tentang kehidupan pribadinya? Bagaimana sang diktator menghabiskan waktu luangnya?

1. Membaca
Berkat didikan orang tuanya, Josef Stalin gemar membaca sejak kecil. Kebiasaan ini tak pernah luntur sepanjang hidupnya. Dia diperkirakan memiliki sekitar 40 ribu buku dengan 10 ribu di antaranya berada di dacha (semacam rumah pedesaan) Kuntsevo (atau Blizhnyaya), kediaman pribadi utamanya di luar Moskow. Stalin mampu membaca dengan cepat. Dia sering membuat banyak catatan di pinggir halaman. Saat masih remaja, ia juga terbiasa menulis puisi. Namun ketika kariernya berkembang, ia tak punya banyak waktu untuk mencurahkan isi hatinya.

2. Menonton film
Kadang-kadang, Stalin suka rehat sejenak dan mengunjungi Teater Bolshoi untuk menyaksikan opera atau menonton film di ruang bioskop pribadinya di Kremlin. Sang pemimpin Soviet memang sangat menyukai film. Ia sering mengundang teman-teman partainya ke pemutaran film pribadi dan bertindak sebagai semacam agen kelas kakap film-film asing untuk industri film Soviet (kebanyakan film ini tak berhasil keluar ruangan alias tak lulus “sensor”). Sang diktator sendiri akan menunjuk film mana yang boleh dan tak boleh ditonton masyarakat. Ia pun mengawasi pembuatan film-film “penting”, membaca seluruh naskah, dan menonton semua adegan.

Orang-orang percaya bahwa salah satu film Soviet favoritnya adalah “Volga-Volga” (1938), komedi musikal karya sutradara Grigori Aleksandrov. Film itu menceritakan sekelompok penghibur amatir yang pergi ke Moskow untuk berpartisipasi dalam sebuah kontes bakat. Beberapa orang bilang bahwa Stalin hafal luar kepala seluruh dialog dan lagu dalam film tersebut.

3. Makan makanan enak
Sang pemimpin Soviet juga penggemar berat acara kumpul-kumpul besar dengan berbagai hidangan, terutama masakan Eropa, Rusia, dan Georgia. Acara-acara itu biasanya menyerupai makan malam prasmanan dengan roti buatan rumah, aneka minuman, sejumlah hidangan pembuka, salad, sup, dan makanan utama (biasanya mengandung daging). Para staf istana akan menyajikan makanan dan kemudian meninggalkan ruangan. Stalin dan tamu-tamunya akan menyantap semua yang mereka inginkan tanpa bantuan pelayan. Makan malam seperti itu bisa berlangsung selama enam jam atau lebih.

Stalin diduga memiliki tiga koki di kediaman pribadinya, dengan satu koki tambahan di Kremlin, jika diperlukan. Dia tidak menyukai segala jenis makanan kaleng dan bahkan memiliki kolam khusus (untuk mendapatkan ikan segar) di rumahnya. Dia juga memiliki fasilitas pembuatan anggur sendiri dan bahkan sesekali memasak — ia pandai memasak shashlik (semacam sate).





 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar Download GTA San Andreas Mobile

Sabtu, 02 Mei 2020

Tank Bob Semple

Tank Bob Semple tidak kuat, tidak bertenaga, tidak praktis dan tanggung. Tank ini lahir dari rasa keputusasaan Selandia Baru saat Perang Dunia II.

Saat permulaan Perang Dunia II, Selandia Baru mengakui bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk menghasilkan industri senjata yang layak, khususnya tank dan kendaraan lapis baja. Ketika jelas bahwa Inggris atau Amerika Serikat dalam waktu dekat tidak bisa memberi mereka ini, dan dengan di bawah ancaman Kekaisaran Jepang yang terus berkembang di Pasifik, negara ini mulai mencari solusi demi melindungi teritorinya. 

Beberapa upayanya menghasilkan sesuatu yang berguna, dan yang lainnya dilupakan. salah satunya adalah Tank Bob Semple.

Tank ini dinamai Bob Semple karena Menteri Pekerjaan saat itu yang bertindak, yang punya ide atas tank lokal ini untuk mempertahankan negara dari invasi darat oleh pasukan Jepang.
Robert 'Bob' Semple adalah nama Manteri Pekerjaan Umum Selandia Baru.

Tank itu dibuat dari traktor/Caterpillar D8 yang telah diproduksi disana sejak tahun 1935. Dibuat dengan buru-buru, ditambahkan bahan logam dengan finishing bergelombang yang dimaksudkan untuk melindungi awak dari tembakan senjata ringan. Kurangnya persenjataan kaliber berat, Tank ini hanya membawa senapan mesin tipe BREN 6x0,303 dan dipasang di masing-masing lambung utama. satu di setiap sisi, sepasang menghadap ke depan, satu ke belakang dan satunya lagi dipasang pada turret traverse. Paling tidak ini akan memberikan beberapa perlawanan kepada infanteri.

Pekerjaan itu menghasilkan tank yang bentuknya hampir lucu hehe dengan 8 kru didalamnya. Struktur atas lambung bekerja seperti turret dan mobilitas menggunakan ronda rantai yang memberikan penampilan khas Tank. tetapi kendaraan itu bukanlah kendaraan yang layak tempur.

Tenaganya berasal dari diesel 6-silinder Caterpillar yang menghasilkan sekitar 127 tenaga kuda. kecepatan yang terbatas seperti pejalan kaki dengan 15 mil per jam dalam kondisi ideal dan jangkauan operasional hingga 100 mil.

Mereka dengan cepat menyadari bahwa kendaraan itu terlalu lambat dan sulit secara taktis. Pergantian gigi mengharuskan Tank untuk berhenti total sebelum perubahan gigi terjadi. Selain itu armornya juga kurang secara keseluruhan dan kendaraan terbukti secara inheren kurang bertenaga. ditambah dengan fakta bahwa tidak ada rencana formal yang ditulis untuk membangun Bob Semple Tank versi berikutnya dengan standar tertentu, menyebabkan pendekatan "traktor-tank" ini dengan cepat ditinggalkan dan hanya segelintir yang diproduksi. mau tidak mau tank ini dikembalikan ke keadaan sebelumnya sebagai traktor industri. 


 Jasa Arsitek Denpasar
Privat Matematika n English Denpasar Download GTA San Andreas Mobile